Aku Memanggilnya “Apa”


Ayah, bapak, abi, papah, daddy dan panggilan sejenis lainnya itu menandakan bahwa dia adalah suami dari ibu kita atau yaaah dialah seorang ayah. Aku memanggil ayahku dengan sebutan Apa, agak berbeda memang dengan ketiga kakakku yang memanggilnya dengan sebutan Empah. Tapi keduanya sama, berasal dari kata Papah.

Apa ku meninggal sekitar 10 tahun yang lalu, tepat 4 bulan setelah kakak ketiga ku menikah. Ia terkena serangan jantung, Tuhan hanya memberikan waktu satu hari untuk kami menungguinya di rumah sakit. Ia masuk rumah sakit setelah selesai mengantar aku dan ibuku membeli kebutuhan sekolahku. Maklum waktu itu aku baru mau naik kelas 2 SMP jadi saat liburan kenaikan kelas itulah saatnya mereka membelikan tas dan alat tulis serta perangkat sekolah lainnya.

Memang tidak biasanya, hari itu dia lebih banyak terdiam. Menunggui aku dan ibuku yang sibuk memilih sepatu, ia hanya duduk diluar toko sambil minum es cendol. Tidak ada pertanda sebelumnya, itulah serangan jantung. Sesampainya di rumah ia sesak nafas, keringat mengucur deras dari sekujur tubuhnya. Ibuku berusaha mengeringkan keringatnya, member obat jantung yang biasa ia minum. Ia meminta kakak lelakiku untuk mengantarnya ke rumah sakit. Dan pergilah mereka bertiga ke rumah sakit, sementara aku menunggu di rumah. Menurut cerita ibuku, Apa ku terlihat sangat kuat di saat terlemahnya itu. Ia menyalami tangan ibu dan kakakku, ia meminta maaf.

Tidak ada firasat sama sekali. Tidak ada satupun anggota keluarga yang mengira ia akan pergi hari itu. Apalagi aku yang masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi. Aku hanya tau Apa ku sakit dan masuk rumah sakit. Aku pikir ia akan sehat lagi karena ia sudah pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama. Tapi ternyata ia tidak kembali. Ibuku bilang Apaku meninggal seperti sedang tertidur. Tidak ada suara rintihan atau nafas yang tersengal. Aku menangis, hanya menangis. Tidak tau apa arti kepergiannya, yang aku tau dia tidak akan kembali padaku.

Tapi seiring waktu, aku mulai merasa kehilangan. Saat aku SMA aku baru tau bahwa ketika aku menikah, seharusnya Apa ku lah waliku. Tapi karena dia telah tiada, maka kakak lelakikulah penggantinya. Dan aku bertanya, kenapa Tuhan mengambil Apa sebelum aku menikah?? Kadang iri hati ini melihat teman” yang diantar atau dijemput oleh ayahnya pada suatu acara sementara Apa ku sudah berkalang tanah. Selama 2 tahun sejak kematian Apa, ibuku sering sekali sakit, ia sangat terpukul. Berat badannya pun turun dengan cepat, ia memutuskan untuk melaksanakan ibadah haji. Untuk lebih mendekatkan diri pada Illahi. Kewajibannya pasti semakin berat setelah Apa pergi, sementara ia masih harus menata hatinya, masih ada aku yang jadi kewajibannya, untuk mendidik dan mengajari aku tentang banyak hal.

Kakak ketigaku lebih sering menyesal, karena jangankan melihatnya disaat terakhir, ketika ia datang, makam Apa ku sudah tertutup tanah. Tapi apalah gunanya menyesal? Apalah gunanya menangis dan bersedih? Hidup ini bukanlah sinetron, Apa tidak berpura-pura mati. Apa memang sudah pergi. Apa yang lucu, dengen perut buncit dan jidatnya yang lebar, Apa adalah orang yang humoris. Apa penyuka sepak bola dan ia tidak banyak bicara. Apa seorang perokok berat, tapi Apa pandai dalam berbagai macam jenis olah raga. Apa pintar main musik dan ia bijaksana. Apa, meski Apa telah tiada, kenangan bahagia bersama Apa akan selalu ada. Aku tidak akan pernah lupa bahwa setiap uban yang aku cabut dari kepalamu itu bernilai 100 rupiah. Akan selalu aku ingat pelukan terakhir di pangkuanmu. Apa, kadang aku rindu padamu. Tidak bisakah kita bertemu? Meski dalam mimpi. Tak usahlah kau bicara, cukup tersenyum itu sudah cukup bagiku. Apa, hanya doa, hanya doa yang bisa aku kirimkan untukmu.

kekasihku, aku tau kau seorang perokok. Bahkan sejak kau SMP dulu. Kau sudah dewasa, paham betul apa yang kau hisap sehari’. Tidak. Aku tidak akan melarangmu untuk berhenti, karena aku tau itu begitu sulit. Aku hanya berdoa, semoga Tuhan selalu memberikan kesehatan padamu. Agar kau bisa lebih lama lagi tinggal denganku :)”
no image
Item Reviewed: Aku Memanggilnya “Apa” 9 out of 10 based on 10 ratings. 9 user reviews.
Emoticon? nyengir

Berkomentarlah dengan Bahasa yang Relevan dan Sopan.. #ThinkHIGH! ^_^

Komentar Terbaru

Just load it!